3

Belajar Menyampaikan Pesan Melalui Proses Yang Dinamis Dalam Konteks Dan Suasana Terberi

Salah satu anasir utama pembelajaran Komunikasi Sosial adalah belajar menyampaikan pesan melalui proses yang dinamis dalam konteks dan suasana terberi. Hari ini, giliran mahasiswa/i Semester VI A Sekolah Tinggi Ilmu Pastoral Atma Reksa (STIPAR) Ende menikmati sub-topik “Lagu-gerak sebagai media pembelajaran iman yang dinamis dan kreatif”. Proses pembelajaran berlangsung di bawah naungan awan gelap yang melingkupi hijaunya alam rumah pembelajaran Komsos KAE – Kompleks Rumah Kevikepan Ende. Praktisnya, pembelajaran berawal dengan mendengarkan dari media audio lagu berjudul Bangun Rumah Misioner, lalu mencatat lirik pada aplikasi notes, kemudian saling share lewat Share It dan WA group, dan menghafal syair lagu tsb. Selanjutnya, sang instruktur, Irene Baret, memandu alur gerak yang ditiru para pembelajar. Untuk menguasai gerak, perlu diingat adagium ini, “practice makes perfect” (Mau sempurna, berlatilah!).

2

Pekan Komunikasi Sosial Nasional di Ujung Pandang dan Tanah Toraja

Saya, Hendrik Dari, dan Pak Frans Sihol Siagian (Wartawan senior Majalah Hidup) tiba bersamaan di Bandara Hasanudin, Makasar dan dihantar menuju rumah makan, bergabung dengan para pengurus Komsos keuskupan se – Indonesia yang telah tiba sebelumnya. Kami semua akan mengikuti Pekan Komunikasi Sosial Nasional di Ujung Pandang dan Tanah Toraja. Inilah pengalaman ber-komunikasi, ber-koneksi, dan ber-kolaborasi yang menakjubkan sebagaimana tema pleno Komsos KAE 2017 di Paroki Ramah Migran Kombandaru (Dokumentasi Komsos KAE, 25 Mei 2019).

1

Jadilah Pribadi Yang Aktif

Secara pribadi, saya senang mengutip ucapan Paus Fransiskus dalam kata pengantar buku DOCAT (aplikasi populer dari Ajaran Sosial Gereja), “Jadilah pribadi yang aktif. Ketika banyak orang melakukannya bersama-sama, akan terjadi perbaikan di dunia, dan banyak orang akan merasakan bahwa Roh Allah bekerja dalam dirimu. Dan kemudian, mungkin kamu akan menjadi obor yang menerangi jalan bagi orang lain untuk menuju Allah”. Ucapan Bapa Suci ini menjadi inspirasi terus-menerus bagi para pegiat Komsos KAE dan para kolaborator dari berbagai kalangan yang mendukung karya Komsos KAE dalam mengembangkan dan mengoptimalkan penggunaan media main-stream dan media baru sebagai wadah terberkati, dalam mewartakan kebaikan Tuhan (Dokumentasi Komsos KAE pada event tahbisan diakon di Ritapiret dan persiapan pemancangan pemancar Voca FM).

WhatsApp Image 2018-06-28 at 09.38.28

Peduli Voca

Peduli Voca

RD. Nani Songkares meluangkan waktu bertandang ke Pondok Voca untuk berdiskusi bersama crew Voca pada 21 Juni 2018. Perbincangan saat itu berkaitan dengan seruan Paus tentang Media Baru (Ekskursus Media Baru – Docat No.43) dalam konteks kehadiran pondok digital Voca.

Diskusi bersama pada malam itu dipandu oleh RD. Yetra (Voca Founder) dan dihadiri oleh RD. Piperno (Voca Founder & Director), RD. Adolf Keo (Voca Founder) dan segenap crew Voca.

3

Gereja Di Negeri Jiran

(Catatan pelayanan Natal 2016 dan Tahun Baru 2017)

Di tengah hamparan perkebunan kelapa sawit yang membentang sejauh-jauh mata memandang dalam perjalanan dari kota Sandakan, Sabah, Malaysia, menuju pusat misi baru di Paitan, papan baliho dengan nama gereja Katolik dari salah satu santo atau santa dengan mudah dapat ditemukan di pinggir-pinggir jalan. Kesan pertama adalah hadir dan berkembangnya gereja yang hidup di negeri Jiran ini.

Keuskupan Sandakan adalah salah satu dari tiga Keuskupan di wilayah Sabah, Malaysia (Kalimantan bagian timur). Selain Sandakan, ada dua Keuskupan lain, yakni Keuskupan Agung Kinabalu dan Keuskupan Keningau. Keuskupan Sandakan boleh dikata tiga kali lebih besar dari pulau Flores, namun dilayani hanya oleh 10 imam diosesan, termasuk Bapak Uskup sendiri, Mgr. Datuk Julius Dusin Gitom. Bapak Uskup sekaligus menjadi pastor paroki Katerdral St. Mary, Sandakan, dan beberapa tempat lainnya. Selama beberapa tahun belakangan ini Keuskupan Sandakan menjalin kerja sama dengan beberapa Keuskupan di Flores, antara lain karena puluhan ribu umat Keuskupan Sandakan adalah migran perantau dari NTT, termasuk dari Flores.

Sampai dengan tahun 1970-an banyak misionaris bekerja di Sandakan. Namun kemudian Pemerintah Malaysia mengeluarkan aturan yang hanya mengizinkan imam pribumi asli, juga biarawan/ti asli dari Malaysia, untuk bekerja di sana. Dengan demikian terjadi krisis pelayanan. Di mana-mana umat tidak dapat dilayani oleh imam.

Misionaris Awam
Krisis ini sekaligus berkat tersembunyi. Dengan jumlah imam yang amat terbatas dan tahbisan yang begitu langka muncullah gerakan awam yang militan. Mereka menjadi misionaris yang menyebar ke mana-mana di seluruh wilayah Sabah. Mereka masuk ke wilayah-wilayah pedalaman yang sulit terjangkau kecuali melalui perahu atau berjalan kaki.

Sebagian dari mereka menjadi katekis. Katekis-katekis itu tidak dibekali pendidikan formal seperti di Indonesia. Pendidikan, apalagi di pedalaman, itu susah. Selain karena jumlah sekolah terbatas, letaknya juga jauh. Sebagian dari para katekis itu mengikuti kursus pendalaman iman selama tiga bulan di Keningau, sebuah kota yang jauh dari Sandakan. Dengan bekal itu mereka menyebarkan iman, menemani saudara-saudarinya di wilayah-wilayah pedalaman, terutama di tempat-tempat yang susah dikunjungi imam. Mereka mengajari umat Katolik berdoa, memimpin ibadat-ibadat, mengunjungi kampung-kampung yang berjauhan satu dengan yang lainnya.

Salah satu tempat misi para misionaris awam itu adalah sebuah wilayah bernama Paitan. Adalah seorang pegawai kehutanan di kota Sandakan bernama Stephen Ubing, yang pertama-tama masuk wilayah Paitan, tahun 1980-an. Dengan perahu motor dari kantornya dia menjangkau Paitan melalui laut, dia menerobos sungai-sungai untuk mengunjungi kampung-kampung. Dia menemukan orang-orang yang bersedia menerima ajaran Tuhan. Dia mengajari dan menemani mereka berdoa. Gerakan ini gayung bersambut. Semakin banyak orang membantu. Seorang katekis, Alpheus Loinsong, bersedia tinggal di sana. Dia mengarungi sungai dengan perahu, atau berenang, berjalan dari kampung ke kampung, meneguhkan iman saudara-saudarinya.
Katekis lainnya ikut membantu: Peter Saimin dan Alikir. Alikir meninggal dunia. Peter Saimin meneruskan perjuangan para misionaris awam sampai sekarang. Mereka mengupayakan agar para imam dapat mengunjungi dan melayani. Ini dilakukan tanpa kenal Lelah.

Sejak beberapa tahun silam, seorang imam senior, Rm. Thom Makajil, menetap di sebuah rumah pastoran sederhana, berdindingkan tripleks dengan lantai semen kasar beralaskan plastik/ferlak. Wilayah Paitan dikelilingi perkebunan kelapa sawit. Kelapa sawit rakus air dan mengisap air tanah. Karena itu mereka kesulitan mendapatkan air bersih. Untuk masak dan mandi mereka mengandalkan air hujan. Kalau terjadi kemarau panjang, sumber air satu-satunya adalah sungai yang kuning pekat karena keruh. Listrik menggunakan panel surya. Di situlah Fr.Thom, demikian imam itu akrab disapa, tinggal, dan melayani.

Sebuah Kapela sederhana didirikan, kira-kira 30 meter dari jalan utama. Di pinggir jalan itu dipancangkan baliho besar dalam tiga Bahasa – Malaysia (Melayu), Mandarin dan Inggris – GEREJA KATOLIK ST. FRANSISKUS. Di sisi kiri Kapela itu ada sebuah gua Maria. Saat ini sebuah Gereja permanen sedang didirikan di lokasi Kapela itu.

Semenjak Fr. Thom bertapa di situ, komunitas-komunitas Katolik semakin solid di kampung-kampung. Banyak simpatisan Katolik minta dipermandikan. Ada 23 komunitas/kampung Katolik, dan 14 atau 15 di antaranya memiliki kapela, atau chapel, sebagian dengan baliho yang dipancangkan di pinggir jalan. Tidak semua komunitas bisa dikunjungi. Kalau ada kunjungan, dan ada Perayaan Ekaristi, betapa menggembirakan dan membahagiakan.

Gereja Penuh Tantangan
Gereja Katolik di wilayah misi baru Paitan penuh tantangan. Wilayah ini bisa dikatakan daerah perebutan agama-agama. Karena itu dalam satu kampung bisa ada beberapa agama, atau denominasi. Dan karena himpitan ekonomi, orang sering dikibuli dengan iming-iming uang, lalu berganti agama. Apalagi, banyak umat tidak berpendidikan tinggi. Mestinya komunitas-komunitas Katolik yang baru di kampung-kampung ini diteguhkan, diperkuat melalui kunjungan-kunjungan.

Namun jarak antar kampung amat berjauhan. Sementara itu transportasi susah. Tidak ada bemo atau bis antar wilayah. Jadi orang harus punya kendaraan sendiri, dengan bahan bakar yang harganya sudah berbeda dengan harga di kota. Kalau tidak, ya, harus menyewa kendaraan orang lain, yang tentu sangat mahal.
Karena itu kunjungan-kunjungan tidak bisa sering dilakukan. Apalagi kalau imamnya hanya seorang, padahal mereka sangat membutuhkan kehadiran seorang imam untuk meneguhkan mereka. Ibadat Hari Minggu biasanya dilayani seorang Katekis. “Father, terima kasih, baru kali ini ada misa Krismas, di kampung kami”, kata seorang kepala suku dari satu kampung, saat makan bersama seluruh warga Katolik di rumahnya.
Ada kampung yang belum bisa dikunjungi karena letaknya jauh dan sulit dijangkau. “Kami harus lebih dahulu ke sana, Father, untuk memastikan jumlah umat Katolik”, kata Peter Saimin suatu kesempatan. Dia berkisah tentang perjalanannya suatu waktu, bersama Fr. Thom, ke suatu kampung di pedalaman dengan menggunakan boat (perahu) melalui sungai. “Kita sampai jam 9 malam setelah melewati jeram”, katanya.
Suatu waktu, ketika hendak berkunjung ke suatu kampung, kami dihadang banjir. Air sungai meluap sampai menutup jalan. Kami coba melewati jalan lain, tapi licin sekali, karena tanah liat. Kami tak punya jalan lain. Akhirnya kami berbalik ke pastoran, meninggalkan kekecewaan dalam diri umat.
Di beberapa tempat, yang sambut saat misa hanya sedikit, karena sebagian umat yang hadir adalah simpatisan Katolik, belum dipermandikan. Bisa dibayangkan kesulitan pelayanan Sakramen-Sakramen lainnya.
Pelayanan Sakramen Perkawinan, misalnya, punya kesulitan tersendiri. Sebagian umat sudah menyandang nama yang dikonotasikan dengan agama tertentu. Menikah secara gerejawi dianggap berpindah agama, dan itu berarti harus berurusan di Pengadilan di kota, yang letaknya sangat jauh, dengan prosedur yang rumit. Kebebasan beragama tidak sebesar seperti yang dialami di Indonesia.

Gereja Para Perantau
Wilayah misi Paitan dikelilingi estate (perkebunan) kelapa sawit, yang dikuasai perusahaan-perusahaan Malaysia dari wilayah semenanjung (Kuala Lumpur). Setiap estate memiliki 8 sampai 20-an ribu hektar kelapa sawit, dan memiliki ratusan sampai ribuan buruh. Sebagian besar adalah migran dari Indonesia bagian timur, khususnya NTT, atau dari Bugis, Makassar.

Jumat, 23 Desember 2016, pertama kali saya mengunjungi kapela yang sebagian besar umatnya adalah orang-orang NTT. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 100 km, akhirnya saya bersama katekis Peter Saimin tiba di pusat perkantoran dan pemukiman estate Meridian, kurang lebih jam 7.30 malam, saat hujan rintik-rintik. Di tengah jalan bergabung dua ibu katekis, dan beberapa belia (anak muda).
Sebagian umat sudah berkumpul di Chapel St. Joseph, demikian kapela itu dinamakan. Kapela itu baru selesai dibangun, berukuran kurang lebih 7 x 10 m, dengan dana swasta, yang dikumpulkan para migran. Umat beruntung sekali, diberi keleluasaan oleh perusahaan, untuk mendirikan kapela di tempat itu.Beberapa petinggi perusahaan tersebut seperti Fred Juhim yang membidangi Human Resources, Livingson Lirinok (Assistant Manager), dan Jessico Mutun (Mill Engineer) adalah orang-orang Katolik yang aktif menggalakkan pembangunan kapela tersebut.

Perayaan Ekaristi dilangsungkan meriah, dengan koor oleh belia-belia dari stasi terdekat. Perayaan terasa seperti hari Natal, padahal masih dalam masa adven. Maklum, ini adalah hari yang ditunggu-tunggu, hari pemberkatan kapela baru oleh imam dari Indonesia, dari NTT. Perasaan haru, gembira, bahagia bercampur-aduk. Adanya sebuah kapela, biar kecil dan sederhana, selain merupakan simbol identitas dan pengakuan akan keberadaan umat Katolik, juga merupakan tanda bahwa Tuhan hadir, memberkati dan melindungi.
Usai perayaan ramai-ramai berebutan foto. Kunjungan imam dari Indonesia terasa seperti pelepas rindu bagi sebagian besar umat, yang adalah orang NTT. Tak henti-hentinya umat diaspora ini mengelilingi imamnya. Lama mereka merasa seperti domba kehilangan gembala, karena ada yang telah merantau belasan bahkan puluhan tahun, dan tidak pernah merasakan suasana kerohanian seperti ini. Mereka mendengar ada kunjungan para imam Indonesia beberapa tahun belakangan ini ke Keuskupan Sandakan. Baru pada tahun ini seorang imam Indonesia mendatangi mereka di tempat kerja mereka.

Setelah penandatanganan prasasti, dilanjutkan dengan acara ramah tamah sederhana, di sebuah tenda dari terpal dan panggung yang sudah disiapkan. Berbagai acara ditampilkan untuk mengungkapkan kebahagiaan. Dan ketika akhirnya dinyanyikan lagu Bo lele bo, umat diaspora, yang sebagian besar berasal dari Kupang, Timor itu, meneteskan air mata. Mereka tidak ingin terlalu cepat berpisah dari imamnya. Mereka ingin sekali mendapatkan lagi jadwal kunjungan imam selama Natal dan Tahun Baru, tetapi tidak dapat dilayani, karena telah dijadwalkan untuk kunjungan ke tempat-tempat lain.

Keesokan harinya, 24 Desember 2016, kunjungan ke estate IJM, untuk perayaan Natal. IJM adalah sebuah estate besar, yang terdiri dari beberapa blok, dan memiliki ribuan buruh. Sebagian buruhnya adalah orang-orang Indonesia: Bugis dan om-om (sebutan untuk migran dari Indonesia Timur). Jumlah terbesar migran NTT berasal dari Manggarai.

Kami tiba jam 2.30 siang, dijemput oleh Paulus Nanga dari Mataloko, ke rumahnya. Dia telah berkeluarga, dan diberi sebuah rumah permanen yang cukup bagus dari perusahaan. Sebentar kemudian bergabung beberapa buruh dari Manggarai, Nagekeo dan India.
Perayaan Ekaristi dimulai jam 4.30 di aula sebuah Sekolah Dasar (Humana School) yang besar, yang bisa menampung 400-500 orang. Perayaan benar-benar meriah, dalam nuansa Flores yang kental, dengan koor dari kelompok etnis Manggarai.

Usai misa, seperti di tempat-tempat lain, umat berebutan foto bersama imamnya, dilanjutkan acara makan bersama. Terasa sekali betapa umat terhibur dan diteguhkan.
Ini contoh dua estate yang dikunjungi. Wilayah Paitan dikelilingi banyak estate, dan di semua estate ribuan buruh migran dari NTT mengadu nasib. Tidak semua estate mempunyai kapela. Tidak semua mempunyai akses untuk dikunjungi.

Tidak Menyambut Komuni
Selama pelayanan hampir dua minggu di Paitan, ada sesuatu yang terasa mengganjal, setiap kali merayakan Ekaristi. Jumlah yang menyambut Komuni amat kecil jika dibandingkan dengan keseluruhan umat yang hadir, terutama di kalangan umat perantau. Ternyata banyak terganjal masalah perkawinan. Banyak pasangan hidup bersama tanpa pemberkatan perkawinan dan karena itu mereka merasa tidak layak untuk menerima Komuni Kudus.

Apakah mereka acuh tak acuh dengan urusan perkawinan mereka? Rasanya tidak! Masalahnya rumit. Dari sekian banyak buruh migran yang bekerja di berbagai estate, hanya sepertiga berdokumen lengkap. Banyak buruh migran gelap. Mereka tetap diterima bekerja di estate, dan berada di bawah tanggungjawab estate, sejauh ruang gerak mereka hanya berada di dalam wilayah estate. Di luar wilayah estate bersangkutan, perusahaan tidak bertanggungjawab. Jadi ruang gerak mereka amat terbatas. Berurusan dengan paroki untuk menyelesaikan masalah perkawinan mereka berarti harus keluar dari wilayah estate, yang amat beresiko, karena setiap saat dapat terjaring pihak keamanan. Lagi pula tidak ada transportasi umum yang bisa membuat mereka leluasa bergerak.

Sementara itu Gereja tidak mungkin memberkati pasangan-pasangan tersebut tanpa kejelasan. Ada banyak kasus di mana pasangan yang menikah sudah berkeluarga di tempat asal. Karena itu status liber sangat diperlukan. Dibutuhkan Surat Permandian, Surat Krisma, kursus perkawinan, dan lain-lain, yang memaksa mereka meninggalkan wilayah estate masing-masing. Sementara itu belum tentu semua estate memberi izinan. Untuk beribadat atau misa pada hari Minggu saja tidak semua dapat keleluasaan, karena ada estate yang menjadikan hari Minggu hari kerja.

Pendidikan Anak-Anak
Hidup bersama tanpa berkat nikah adalah salah satu masalah dari sekian banyak masalah yang dihadapi. Masalah lain yang menjadi keprihatinan kaum migran adalah pendidikan anak-anak mereka. Akses pendidikan leluasa diberikan kalau mereka mempunyai Identity Card atau IC (KTP). Memiliki IC berarti diakui sebagai Warga Negara Malaysia. Hanya yang berkewarganegaraan Malaysia sajalah yang mendapatkan hak penuh untuk belajar di sekolah-sekolah Kerajaan (Pemerintah). Namun mendapatkan IC itu sendiri tidak mudah, bahkan nyaris mustahil, kecuali kalau berpindah agama. Sebagian migran/perantau terpaksa melepaskan keyakinan imannya. Namun bagian terbesar bertahan. Resikonya adalah pendidikan anak-anak yang terlantar. Banyak yang buta huruf, tidak berpendidikan. Para migran kita, jangankan punya IC, paspor pun tidak punya. Jadi untuk bertahan hidup saja sudah penuh tantangan, apalagi untuk mengupayakan pendidikan anak-anak!
Memang di estate-estate didirikan sekolah untuk anak-anak migran. Salah satunya Humana School. Sasaran Humana School adalah baca, tulis, hitung. Jadi kurang lebih setingkat SD. Tapi tidak di semua tempat ada sekolah. Kalau pun ada, lokasinya jauh, sementara para migran sudah sejak pagi sekali berangkat ke tempat kerja. Memang ada sekolah Indonesia, yang diresmikan Presiden Jokowi. Tapi itu jauh di kota Kinabalu.

Banyak yang menyerah, tidak berdaya, membiarkan saja anak-anak tidak bersekolah. Ada yang membawa anak-anak pulang ke Indonesia, dititipkan di keluarga di Indonesia, agar bisa bersekolah walaupun terpisah jauh. Namun ada juga pejuang-pejuang pendidikan yang tidak kenal menyerah. Salah satunya adalah Klemens Duli Kewuren, asal Solor Barat, Flores Timur. Dia tidak menyelesaikan pendidikan SMP dan telah merantau belasan tahun di Malaysia. Dia merasakan, tanpa pendidikan, anak-anak dibelenggu kebodohan dan kehilangan masa depan. Mereka mudah sekali terjerat penyakit-penyakit sosial, menjadi korban atau pelakunya. Tanggal 31 Mei 2012, dia memulai usaha pendidikan, mengajari anak-anak dari rumah ke rumah. Murid-muridnya mencapai 15 orang. Dia bergerilya di malam hari, untuk mengajar anak-anak. Lama ke lamaan usaha ini terasa berat. Maka dia memanfaatkan kesempatan doa di Kelompok Umat Basis untuk mengumpulkan dan mengajar anak-anak.

Usahanya ini mendapat dukungan gereja lokal. Para suster Gembala Baik ikut membantu. Mereka mendirikan apa yang disebut CLP – Community Learning Programme. Namun beberapa kali mereka diusir ketika mulai memiliki rumah belajar yang tetap. Karena tantangan-tantangan tersebut, program ini pernah berhenti beroperasi. Tapi Klemens tidak putus asa. Beberapa tokoh gereja, seperti Ketua Dewan Pastoral Gereja St. Mark, Bpk. Demy Koyopo, turun tangan membantu. Gereja St. Mark adalah stasi dari paroki Katedral Sandakan yang dikhususkan bagi kaum migran.

Bersama tokoh-tokoh itu mereka memperjuangkan program ini ke pihak Konsulat Indonesia di Kinabalu. Konsulat merestui. Di atas sebidang tanah yang diberikan oleh umat setempat, sejak bulan Agustus 2016 mereka mendirikan sekolah dasar dengan kurikulum Indonesia. Kepala Sekolahnya adalah Klemens sendiri dan guru-gurunya adalah kaum migran yang pernah mengenyam pendidikan di SMP atau SMA. Sekolah sederhana ini dinamakan CLC Bt.16 Gum-Gum ( Community Learning Center Batu 16, Gum-Gum. Batu adalah ukuran jarak yang umum di Malaysia, kira-kira 600 m per batu).

Ketika berkunjung ke sekolah itu, anak-anak sedang asyik belajar, dipandu oleh para gurunya. Ada yang masih kecil, ada yang sudah berusia remaja. Mereka berjumlah 70-an orang. Sebagian besar anak-anak Indonesia asal NTT. Beberapa siswa/i dari Filipina. Orangtuanya tidak peduli sekolah ini menggunakan kurikulum Indonesia, asal anak-anak bisa bersekolah. Kelas-kelas dipisahkan dengan sekat tripleks setengah terbuka. Kelas tertinggi adalah kelas IV. Mereka naik kelas tidak mesti pada akhir tahun pelajaran. Setelah dua atau tiga bulan mereka bisa naik kelas, asal telah menunjukkan perkembangan yang baik. Maklum, usia mereka di kelas tertinggi memang sudah remaja, 16 atau 17 tahun. Buku-buku pelajaran mereka? “Untuk sementara, kami sering berkonsultasi pada om google, Father!”

Yang kini dicemaskan Klemens adalah kalau Konsulat Indonesia menuntut ijazah resmi para gurunya. “Father, bagaimana kami bisa mendapatkan Ujian Persamaan agar bisa mempunyai ijazah?” Pertanyaan ini hanya bisa kubawa pulang untuk diungkapkan lagi dalam tulisan ini. Rasanya Pemerintah-Pemerintah daerah kita mempunyai kewajiban menjawab jeritan-jeritan ini!

Manusia Tanpa Tempat Tinggal
Malam terakhir di Sandakan adalah malam perpisahan dengan para migran. Seorang ibu dari Flores Timur memandu acara. Dari mulutnya mengalir Bahasa Indonesia dengan aksen Melayu yang kental. Acara bergulir satu per satu dengan lancar!

Di akhir acara, saya terkejut mendapatkan informasi tentang ibu ini. Dia sekarang single parent dengan 4 anak. Suaminya sudah kembali ke Flores Timur karena telah melebihi usia 55 tahun. Malaysia hanya mengizinkan perpanjangan paspor sampai usia 55 tahun. Setelahnya tidak diperkenankan tinggal di sana. Keluarga ini terbelah antara Indonesia dan Malaysia.

Ya Tuhan! Bekerja membanting tulang, mengais rezeki. Ringgit memang punya magnit besar. Dan barangkali, banyak keluarga tertolong karena kiriman Ringgit. Tapi setelah berusia 55 tahun, anda tidak punya tempat tinggal lagi di Malaysia. Anda harus kembali ke Indonesia, negeri yang ditinggalkan saat masih muda karena merasa tidak punya masa depan. Atau, kalau anda mau menetap di Malaysia, anda menetap tanpa kepastian, selalu dengan kewaspadaan atau kecemasan, bahwa suatu saat anda akan tertangkap polisi!
Kegembiraan migran perantau adalah kegembiraan kita juga. Harapan mereka adalah harapan kita. Luka mereka, adalah luka kita juga. Dan mudah-mudahan, jeritan mereka, menjadi jeritan kita bersama!

Oleh:
Rm. Nani Songkares, Pr
Staf Pendidik di Seminari Menengah Mataloko

YESUS SANG RAJA SEJATI

Raja adalah sebuah jabatan terhormat yang senantiasa bergelimang harta, kuasa dan kemewahan. Ia memiliki segalanya dan dengan kuasanya ia boleh melakukan apa saja yang ia kehendaki. Karena itu tidaklah mengherankan kalau jabatan semacam ini senantiasa menjadi incaran setiap manusia.  Hal ini tentu sangat jauh berbeda dengan Yesus sebagai Raja Semesta Alam. Kerajaan Yesus sungguh jauh dari sentuhan kemewahan, jauh dari lingkaran kekuasaan, jauh pula dari jamahan harta. Ironis memang, seorang raja yang tidak punya apa-apa. Uang sepeserpun tak ia miliki, apa lagi harta, tentu jauh dari impiannya. Seluruh hidupnya adalah hasil pinjaman dan belaskasihan orang.

Ketika Ia hendak datang ke tengah dunia ini, Ia meminjam rahim seorang perawan yang bernama Maria dari dusun terpencil Nasareth. Ia pun meminjam kandang domba para gembala di Betlehem sebagai tempat kelahiranNya. Ketika Ia mulai berkarya di hadapan umum, Ia lebih banyak meminjam milik orang untuk di pergunakanNya dalam karya perutusanNya. Ia meminjam, lima ketul roti dan dua ekor ikan untuk kemudian diperbanyakkanNya di padang gurun. Ia juga meminjam keledai orang untuk ditunggangNya ketika Ia hendak memasuki kota Yerusalem. Untuk kepentingan perjamuan malam terakhir barsama para muridNya, Ia  juga harus meminjam rumah orang. Bahkan makam pun Ia pinjam. Inilah figure seorang raja yang sangat jauh berbeda dengan raja-raja duniawi.

Melihat cara hidupNya, Yesus memang tidak layak digelar raja. Karena seluruh hidupNya jauh dari ciri khas seorang raja. Ia tidak memiliki istana megah seperti raja-raja duniawi, bahkan tempat untuk meletakkan kepalaNya pun tidak Ia miliki. Ia juga tidak memiliki prajurit yang dapat membelaNya. Namun Yesus diangkat menjadi raja, bukan karena kekuasaanNya, bukan juga karena kemewahan yang Ia miliki. Ia digelar raja justru karena kerendahan hati dan kesederhanaan. Dan kerajaanNya tentu bukan dari dunia ini. Kerajaan Yesus adalah kerajaan cinta yang berasal dari BapaNya di surga.

Yesus diangkat menjadi raja semesta alam bukan melalui sebuah seremoni yang gegap gempita. Bukan juga melalui sebuah pengukuhan yang bertabur kemewahan. Melainkan Ia dinobatkan menjadi raja, tatkala sebuah mahkota duri diletakkan di atas kepalaNya dan ketika tubuh kudusNya terpaku kaku pada palang penghinaan. Dan  penobatanNya menjadi raja justru dilakukan oleh seorang penjahat yang disalibkan bersamaNya. “Tuhan ingatlah akan daku apabila Engkau datang sebagai raja”.

Kristus adalah raja yang disalibkan. Dia memang disingkirkan, tetapi menjadi raja. Sebagai raja yang tersalib, disatu pihak Ia diejek, ditertawakan dan dihujat, tetapi dipihak lain, Ia juga disembah. Itulah kerajaan Yesus. Raja tanpa mahkota, raja tanpa istana,  raja tanpa segalanya. Raja seperti ini tentu tidak banyak diminati. Apalagi bagi orang-orang yang gila kuasa, harta, pangkat dan kedudukan.

Kerajaan Yesus adalah kerajaan yang sama sekali tidak kelihatan, kerajaan yang berada di balik dunia ini. Kerajaan Yesus sudah terwujud sejak saat ini, tapi hanya dialami oleh orang-orang yang bersikap seperti penjahat yang bertobat di samping Yesus di Golgota. Dia memang di Salibkan, tetapi Dia masih menyelamatkan. Kerajaan Yesus memiliki hubungan yang erat dengan pengampunan. Dia menjadi raja bagi semua orang berdosa, dan semua orang yang mau memperoleh keselamatan.Yesus baru menjadi raja bagi kita sekalian kalau kita selalu berdoa memohon pengampunan. Dia juga baru kita alami sebagai raja kalau kita juga mampu berdoa seperti penjahat yang bertobat di samping Yesus.

Sebagai seorang raja yang tersalib, Yesus tidak pernah memperhatikan diriNya sendiri, keluarga, ataupun kelompokNya. Bahkan ketika ia sedang mengajar, ada orang yang datang kepadaNya dan memberitahukan bahwa ibu dan saudara-saudaraNya mencariNya, Yesus justru balik bertanya, “Siapakah ibuku dan siapakah saudara-saudaraKu ? Ibuku dan saudara-saudaraKu, ialah mereka yang mendengar dan melaksanakan sabda Allah”. Sampai disini nampak bahwa sebagai seorang raja yang tersalib, Yesus tidak datang untuk sanak keluargaNya, atau untuk orang-orang sekampungNya. Ia datang dan menjadi raja bagi sekalian orang yang percaya kepadaNya.

Sebagai seorang raja, Yesus juga tidak datang untuk menyelamatkan diriNya sendiri atau mencari selamat untuk diriNya. Ia datang untuk menyelamatkan semua orang yang percaya kepadaNya. Seluruh hidupNya dibaktikan untuk sesamaNya. Inilah sosok pemimpin yang sebenarnya, seorang raja sejati. Pertanyaan untuk kita renungkan, “mampukah kita sebagai pengikut-pengikut Kristus mencontohi cara hidup Yesus yang selalu mengutamakan kepentingan banyak orang ketimbang kepentingan pribadi dan golongan ? Jawabannya ada dalam hati kita masing-masing.

Mencari pemimpin dan raja sejati seperti Yesus yang rela mengorbankan hidupNya bagi orang lain di jaman kini memang sulit. Pemimpin dan raja jaman kini selalu syarat kepentingan. Banyak pemimpin jaman kini yang kurang menyadari bahwa menjadi pemimpin berarti menjadi pelayan. Pemimpin jaman kini sering menganggap diri sebagai penguasa yang berhak menentukan apa saja. Karena itu tidak heran mereka selalu bertindak sewenang-wenang. Rakyat yang dipimpinnya sering dianggap tidak tahu apa-apa. Mereka bebas melakukan apa saja sesuka hatinya

 

Oleh : Reginald Piperno, Pr

HIDUP SETELAH MATI

Berbicara tentang HIDUP SETELAH MATI, tentu merupakan sesuatu yang sangat abstrak bagi kita sekalian. Alasannya sangat sederhana yakni semua kita belum pernah mati. Atau belum ada seorang pun kecuali Yesus, yang bangun dari kuburnya dan memproklamirkan kepada kita sekalian bahwa ada kehidupan setelah kematian. Kalau seandainya ada orang-orang dari antara kita yang pernah mati lalu bangun dari kuburnya dan memproklamirkan kepada kita bahwa ada hidup yang penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan setelah kematian, saya yakni bahwa banyak dari antara kita akan memilih mati ketimbang hidup di atas dunia ini dengan aneka pesoalan dan penderitan yang harus di alami. Tapi sayang, hal seperti ini belum pernah kita alami dalam kehidupan nyata kita. Kita hanya mendengar cerita-cerita, entah berupa dongeng, cerita para kudus, maupun kisah-kisah  dari kitab suci yang menggambarkan kepada kita tentang kehidupan setelah kematian.

 Hal ini yang membuat  manusia-manusia jaman kini, mulai ragu apakah benar ada hidup setelah kematian ? Apa lagi manusia-manusia jaman kini selalu menuntut bukti untuk bisa yakin dan percaya. Yang bisa dipercaya adalah sesuatu yang dialami,  dirasakan, disaksikan dengan mata dan dapat diterima dengan akal. Kalau semua itu tidak terpenuhi maka mutahil orang bisa yakin dan percaya. Keyakinan dan kepercayaan manusia jaman kini sangat tergantung pada akal. Sesuatu yang bisa dijelaskan dengan akal, dimengerti dan dipahami itu yang diyakini sebagai sebuah kebenaran, sementara yang sulit dijelaskan dan diterima dengan akal sehat itu dianggap sebagai sesuatu yang salah dan tidak perlu dipercaya atau diyakini. Situasi semacam ini yang sering membuat kita manusia mulai meragukan segala sesuatu, termasuk mulai meragukan adanya Tuhan.

Namun bagi kita sebagai pengikut-pengikut Kritus, kita yakin dan percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian. Kematian bukanlah akhir dari segala-galanya. Kematian hanyalah penggalan dari kehidupan. Kehidupan yang sementara di atas dunia ini dipenggal sesaat untuk kemudian mengalami kehidupan baru yang kekal abadi sifatnya. Gereja Katholik memiliki keyakinan yang teguh bahwa ada hidup setelah kematian. Sebuah kehidupan yang tidak pernah akan binasa oleh apapun.

Bagi kita sekalian, berbicara tentang kehidupan setelah kematian tentu sulit bahkan tidak mungkin dijelaskan dengan akal sehat. Karena itu banyak orang mulai tidak percaya akan hal itu. Namun satu hal yang perlu kita sadari bahwa segala sesuatu yang tidak dapat diterima dan dijelaskan dengan akal sehat tidak berarti bahwa hal itu tidak perlu dipercaya atau diyakini. Perkara iman adalah perkara hati dan kalau kita berbicara tentang iman, kita bebicara tentang hati bukan tentang akal.

Tidak semua hal yang berhubungan dengan iman atau keyakinan mesti tuntas dijelaskan dengan akal atau pikiran. Akal kita manusia terlalu sederhana untuk menampung semua misteri yang tersembunyi dalam iman kita. Dan ini mau menunjukkan kepada kita sekalian bahwa Allah yang kita imani adalah Allah yang maha akbar, Allah yang Maha Kuasa yang tidak mungkin terjangkau oleh pikiran kita manusia yang kecil dan sederhana ini. Allah itu imanent dan trasendent. Ia ada dan hadir namun melampaui akal kita manusia. Kalau segala sesuatu yang berhubungan dengan Allah dapat dijelaskan dengan akal sehat maka Allah yang kita imani bukanlah Allah yang Maha Kuasa dan Maha Akbar. Allah buatan manusia.

Begitupun kalau kita berbicara tentang hidup setelah kematian. Hal ini tentu sangat abstrak bagi kita. Tetapi sesuatu yang abtrak belum tentu tidak benar. Justru hal yang abtrak  seringkali menampilkan tentang sesuatu yang sesungguhnya. Ia menampilkan sebuah kebenaran sejati. Dalam iman kita harus yakin bahwa memang ada kehidupan setelah kematian. Yesus sendiri telah mengatakan kepada kita sekalian “Jangan cemas dan gelisa hatimu, di rumah BapaKu ada banyak tempat. Aku mendahuluan kalian untuk menyediakan tempat bagimu”. Inilah iman yang harus kita akui bahwa ada kehidupan setelah kematian yakni kehidupan bahagia bersama Bapa di dalam rumahNya. Selain itu Yesus sendiri adalah orang pertama yang bangkit dari antara orang mati. Ketika akan meninggalkan para muridNya, Ia berpesan, “Aku mendahului kamu ke rumah BapaKu”.

Melalui kata-kata Yesus di atas, Ia sebenarnya mau menunjukkan kepada kita sekalian para pengikutNya bahwa ada kehidupan setelah kematian yakni kehidupan bahagia bersama Bapa di surga dan kematian bukanlah akhir dari segala-galanya. Kematian hanyalah saat peralihan dari kehidupan yang fana di atas dunia ini menuju kehidupan kekal di surga. Yesus sendiri telah bangkit dari antara orang mati untuk mengalami kehidupan kekal bersama Bapa di surga. Dan setiap orang yang percaya kepadaNya pasti akan mengalami kebangkitan seperti Yesus sendiri, untuk mengalami kehidupan baru.

Diskusi tentang kehidupan setelah kematian juga terjadi di kalangan orang-orang Yahudi. Kelompok orang Yahudi yang tidak percaya akan kebangkitan orang mati atau hidup baru setelah kematian adalah orang Saduki. Kelompok ini cukup berpengaruh terutama di kota Yerusalem. Mereka datang kepada Yesus untuk mencobai Dia. Alasan yang mereka angkat ialah soal perkawinan orang-orang Lewi. Diceritakan ada tujuh bersaudara. Yang pertama kawin lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Terpaksa yang kedua harus menikahi perempuan itu, karena menurut hukum, saudaranya harus memberi keturunan kepada saudaranya yang telah meninggal, agar warisan tidak berpindah tangan dan namanya tidak hilang. Akan tetapi yang kedua juga mengalami nasib yang sama, meninggalkan perempuan itu tanpa member keturunan. Begitupun yang ketiga hingga ketujuh, mengalami nasib yang sama. Yang menjadi pertanyaan orang Yahudi kepada Yesus,”Siapa yang akan menjadi suami perempuan itu pada hari kebangkitan, karena ketujuhnya sudah beristrikan dia ?

Pertanyaan orang Saduki ini memang sungguh menyudutkan orang yang percaya akan kebangkitan orang mati. Namun Yesus secara tegas menjawab bahwa perkawinan itu hanya untuk hidup di dunia ini dan bukan untuk kehidupan yang akan datang. Hal ini karena perkawinan berhubungan erat dengan melanjutkan keturunan agar bangsa manusia tidak mengalami kepunahan. Sementara untuk hidup yang akan datang orang tidak akan lagi kawin-mengawin karena dalam hidup yang akan datang manusia tidak lagi mengalami kematian seperti kehidupan di atas dunia ini. Karena itu tidak perlu dipertanyakan lagi siapakah yang akan menjadi suami perempuan itu. Pertanyaan ini hanya menunjukkan kebodohan orang Saduki. Dalam hidup yang baru semua telah menjadi anak-anak Allah. Mereka sama seperti malaikat-malaikat atau pelayan-pelayan Allah, mereka tidak lagi kawin dan dikawinkan.

Jawaban Yesus di atas juga sekaligus mengedor kesadaran kita sekalian para pengikut Kristus jaman kini, bahwa ada kehidupan setelah kematian. Sebuah kehidupan yang sangat berbeda dengan kehidupan yang tengah kita jalankan di tengah dunia ini. Dan kehidupan setelah kematian bukanlah kelanjutan dari kehidupan yang sedang kita jalani di atas dunia ini. Ketika kita mati, kita akan mengalami kehidupan yang bahagia bersama Bapa di surga. Sebuah kehidupan kekal yang terhindar dari berbagai kesulitan, penderitaan, duka dan derita seperti yang kita hadapi di atas dunia ini.

Kebahagiaan dalam kehidupan setelah kematian, juga akan sangat ditentukan oleh hidup kita saat ini. Kalau kita hidup di tengah dunia ini membawa kegembiraan dan sukacita bagi sesama kita, maka yakinlah bahwa kebahagian kekal akan menjadi milik kita kelak setelah kita meninggalkan dunia ini. Namun kalau selama hidup, kita hanya menjadi batu sandungan bagi orang lain, maka bukan kebahagian yang akan kita peroleh dalam kehidupan kekal, melainkan penderitaan. Karena itu, selama kita masih diberi waktu oleh Tuhan untuk menghirup udara segar di atas dunia ini, hendaknya kita senantiasa mengumpulkan kebajikan-kebajikan, sebab ketika kita meninggal kelak, kita tidak pernah akan di adili berdasarkan apa yang kita miliki di atas dunia ini. Tuhan tidak pernah akan bertanya, berapa banyak harta yang telah kita kumpulkan, atau apa pangkat dan kedudukan kita selama di dunia ini ? Kita hanya akan diadili berdasarkan perbuatan-perbuatan kita selama kita hidup di atas dunia ini. Dengan berbuat baik terhadap sesama kita sebenarnya telah mengumpulkan tiket untuk memperoleh kebahagiaan kekal.

Ketidakpercayaan kita akan kehidupan setelah kematian hanya akan mengantar kita kepada kesesatan. Sebab ketika kita tidak percaya akan kehidupan setelah kematian, maka kita akan melihat kematian sebagai sesuatu yang sia-sia. Kematian sebagai akhir dari segala-galanya. Sampai di sini sebagai orang beriman kita sebenarnya telah kehilangan orientasi hidup kita yang sesungguhnya. Orientasi hidup kita yang sesungguhnya harus terarah pada kehidupan kekal, karena segala sesuatu yang ada di atas dunia ini tidaklah abadi, semuanya sementara. Harta kekayaan, pangkat dan kekudukan, jabatan, semuanya sementara dan akan menjadi sia-sia setelah kita meninggalkan dunia ini. Oleh karena itu, arahkan perhatian kita pada kehidupan setelah kematian. Apa yang tidak pernah kita lihat dengan mata, tidak pernah kita dengar dengan telinga, serta tidak pernah terlintas dalam benak pikiran kita, itulah yang akan disediakan oleh Tuhan bagi semua orang yang dianggap layak olehNya.


Oleh : Reginald Piperno, Pr
Penulis, imam projo Keuskupan Agung Ende

KEANGKUHAN MENUJU KEHANCURAN

Kesombongan atau keangkuhan telah menjadi penyakit social yang melanda sebagian besar manusia abad ini. Penyakit social ini lahir karena manusia-manusia abad ini mulai kehilangan daya reflektif. Kehilangan waktu bagi dirinya sendiri. Manusia-manusia jaman kini lebih sibuk mengejar karier, prestise, nama besar, sehingga mereka meninggalkan dirinya sendiri. Dampak lanjut dari semua ini, manusia lalu tidak mengenal siapa dirinya yang sesungguhnya. Ia lupa akan dirinya sendiri. Ia lalu merasa diri paling hebat, paling benar, paling kudus dari semua orang lain. Kehilangan akan pengenalan diri inilah yang mengantar manusia kepada keangkuhan atau kesombongan. Dan ketika manusia terjebak dalam sika p ini maka manusia mulai meninggikan dirinya dan merendahkan sesamanya.

Sikap semacam ini, seringkali dimiliki oleh orang-orang farisi dan para ahli Taurat. Mereka sering menganggap dirinya benar dan merendahkan orang lain. Mereka merasa hubungannya dengan Tuhan beres dan tidak bercacat. Karena itu mereka menganggap orang lain sebagai orang berdosa yang tidak pantas dihormati, disapa atau didekati. Berhadapan dengan situasi ini Yesus memberikan jawaban dengan memberikan perbandingan tentang dua orang yang pergi berdoa ke bait Allah. Seorang adalah farisi dan seorang lagi adalah pemungut cukai. Orang farisi dianggap sebagai orang saleh dalam masyarakat Yahudi karena mereka taat beribadah dan beragama. Sementara pemungut cukai dikenal sebagai orang berdosa karena mereka seringkali menagih pajak jauh lebih besar dari pada apa yang seharusnya ditagih. Hidup para pemungut cukai seringkali disingkirkan di tengah masyarakat. Mereka dianggap pengkhianat bangsa karena mereka bekerja untuk penjajah Roma.
Orang Farisi berdoa dalam hatinya,”Ya Tuhan aku mengucap syukur kepadaMu, karena aku tidak sama seperti orang lain, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini, aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Sedangkan pemungut cukai berdoa,” Ya Allah kasihanilah aku orang berdosa ini”. Pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh bahkan tidak berani menegadah ke langit, ia memukul-mukul dirinya tanda penyesalan.

Namun yang mengherankan bahwa Yesus justru membenarkan dan memuji doa pemungut cukai itu. Yesus memuji doa pemungut cukai karena ia berdoa dari hatinya, ia mengungkapkan kerendahan hatinya di hadapan Tuhan. Ia menyadari dirinya bahwa sebagai orang berdosa ia tidak layak dihadapan Tuhan. Maka dalam doanya ia tidak berani mengangkat mukanya. Ia hanya tunduk sambil menepuk dada.

Sedangkan orang farisi dikecam oleh Yesus karena sikapnya yang sombong dan angkuh. Di hadapan Tuhan, ia menunjukkan kehebatan-kehebatannya. Ia merasa diri lebih hebat dari semua orang lain. Doanya tidak berpusat pada Tuhan, tetapi berpusat pada dirinya sendiri. Ia menghitung-hitung kebajikannya dihadapan Tuhan. Seluruh isi doanya adalah peninggihan dirinya dan merendahkan orang lain. Puncak keangkuhannya ia tunjukkan ketika ia membandingan dirinya dengan pemungut cukai.

Sebagai manusia yang hidup dijaman serba berubah seperti saat ini, kita seringkali juga memiliki sikap seperti orang –orang farisi. Kita seringkali menganggap diri paling hebat, paling benar, paling baik dari semua orang lain. Pangkat, kedudukan atau jabatan yang kita miliki seringkali dipakai untuk merendahkan orang lain. Kita sering mengaggap bahwa hanya saya yang mampu dan orang lain tidak bisa berbuat apa-apa tanpa saya. Tidak jarang pangkat dan kedudukan juga digunakan untuk menguasai orang lain. Sampai disini, kita sebenarnya mulai terjebak dalam keangkuhan atau kesombongan sosial. Atau karena kita sering berdoa, sering ke gereja kita lalu menganggap diri paling kudus dari semua orang lain. Belum tentu ! Kekudusan bukan hanya terletak pada berapa sering kita berdoa atau berapa banyak kali kita ke Gereja. Melainkan terletak pada bagaimana kita menghayati apa yang kita doakan dan bagaimana kita melaksanakan apa yang telah di amanatkan oleh Tuhan sendiri dalam kehidupan nyata setiap hari.

Adalah sesuatu yang sia-sia kalau kita hanya memiliki relasi yang baik dengan Tuhan, sementara dalam kehidupan harian kita entah di tengah Komunitas Basis, di tengah Lingkungan atau Paroki, kita menjadi batu sandungan bagi orang lain yang sedang berjuang mencari Tuhan. Atau kita memiliki relasi yang baik dengan semua orang tapi kita lupa akan Tuhan. Semuanya akan sia-sia.

Tuhan senantiasa menuntut sebuah sikap yang seimbang dari kita manusia. Dengan memiliki sikap yang seimbang, kita tentu akan menghargai semua orang sesuai dengan bakat dan kemampuan yang ia miliki. Kita tidak pernah akan terjebak dalam sikap angkuh dan sombong seperti orang-orang farisi. Karena akar dari keangkuhan atau kesombongan adalah sikap yang tidak mengenal diri sendiri.

Pengalaman-pengalaman konkrit dalam kehidupan harian kita telah menunjukkan bahwa keangkuhan atau kesombongan selalu mengantar manusia kepada kehancuran. Ketika manusia mulai merasa diri lebih hebat dari Tuhan, bencana-demi bencana datang silih berganti. Atau ketika manusia mulai mengandalkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan penemuan-penemuan baru yang menggetarkan lalu lupa bahwa segalanya berasal dari Dia Yang Maha Kuasa maka bukan kebahagian yang diperoleh tapi penderitaan dan kehancuran yang harus kita terima.

Karena itu, Yesus sering mengingatkan kita para pengikutNya untuk senantiasa bersikap rendah hati. Rendah hati di hadapan Tuhan dan rendah hati di hadapan sesama. Kerendahan hati kita hanya akan tercermin melalui sikap yang tahu menghormati dan menghargai orang lain, sikap yang menerima orang lain apa adanya, sikap yang tahu menghargai orang lain sebagai sesama yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Dengan memiliki keutama-keutamaan di atas maka, sebagai manusia kita tidak pernah akan tergoda untuk bersikap angkuh dan sombong. Namun kalau kita tidak memiliki keutamaan-keutamaan seperti di atas, maka bukan musthil kita akan menjadi manusia yang angkuh dan sombong. Kalau sudah demikian maka bukan kebahagiaan yang akan kita raih, melainkan penderitaan dan kehancuran yang akan kita alami.

Penderitaan dan kehancuran akan kita alami karena dengan bersikap sombong kita akan senantiasa dijauhi oleh sesama kita. Kita akan diasingkan dalam hidup bersama. Karena itu kerendahan hati adalah hal yang paling utama dalam kehidupan setiap kita manusia. Dengan memiliki kerendahan hati, kita akan dihormati dan dihargai. Kita akan dicintai oleh sesama kita, kita akan diterima sebagai bagian yang tak terpisahkan dari orang lain dalam kehidupan bersama.

Ebiet G. Ade pernah berujar,”Tengoklah ke dalam sebelum bicara…”. Mari kita menegok ke dalam diri, melihat dan mengenal siapa diri kita yang sesungguhnya sebelum kita berkata dan bertindak. Karena apa yang kita katakan dan kita lakukan adalah adalah cerminan hati kita yang sesungguhnya.

 

Oleh : Reginald Piperno, Pr
Penulis, imam projo Keuskupan Agung Ende