3

Gereja Di Negeri Jiran

(Catatan pelayanan Natal 2016 dan Tahun Baru 2017)

Di tengah hamparan perkebunan kelapa sawit yang membentang sejauh-jauh mata memandang dalam perjalanan dari kota Sandakan, Sabah, Malaysia, menuju pusat misi baru di Paitan, papan baliho dengan nama gereja Katolik dari salah satu santo atau santa dengan mudah dapat ditemukan di pinggir-pinggir jalan. Kesan pertama adalah hadir dan berkembangnya gereja yang hidup di negeri Jiran ini.

Keuskupan Sandakan adalah salah satu dari tiga Keuskupan di wilayah Sabah, Malaysia (Kalimantan bagian timur). Selain Sandakan, ada dua Keuskupan lain, yakni Keuskupan Agung Kinabalu dan Keuskupan Keningau. Keuskupan Sandakan boleh dikata tiga kali lebih besar dari pulau Flores, namun dilayani hanya oleh 10 imam diosesan, termasuk Bapak Uskup sendiri, Mgr. Datuk Julius Dusin Gitom. Bapak Uskup sekaligus menjadi pastor paroki Katerdral St. Mary, Sandakan, dan beberapa tempat lainnya. Selama beberapa tahun belakangan ini Keuskupan Sandakan menjalin kerja sama dengan beberapa Keuskupan di Flores, antara lain karena puluhan ribu umat Keuskupan Sandakan adalah migran perantau dari NTT, termasuk dari Flores.

Sampai dengan tahun 1970-an banyak misionaris bekerja di Sandakan. Namun kemudian Pemerintah Malaysia mengeluarkan aturan yang hanya mengizinkan imam pribumi asli, juga biarawan/ti asli dari Malaysia, untuk bekerja di sana. Dengan demikian terjadi krisis pelayanan. Di mana-mana umat tidak dapat dilayani oleh imam.

Misionaris Awam
Krisis ini sekaligus berkat tersembunyi. Dengan jumlah imam yang amat terbatas dan tahbisan yang begitu langka muncullah gerakan awam yang militan. Mereka menjadi misionaris yang menyebar ke mana-mana di seluruh wilayah Sabah. Mereka masuk ke wilayah-wilayah pedalaman yang sulit terjangkau kecuali melalui perahu atau berjalan kaki.

Sebagian dari mereka menjadi katekis. Katekis-katekis itu tidak dibekali pendidikan formal seperti di Indonesia. Pendidikan, apalagi di pedalaman, itu susah. Selain karena jumlah sekolah terbatas, letaknya juga jauh. Sebagian dari para katekis itu mengikuti kursus pendalaman iman selama tiga bulan di Keningau, sebuah kota yang jauh dari Sandakan. Dengan bekal itu mereka menyebarkan iman, menemani saudara-saudarinya di wilayah-wilayah pedalaman, terutama di tempat-tempat yang susah dikunjungi imam. Mereka mengajari umat Katolik berdoa, memimpin ibadat-ibadat, mengunjungi kampung-kampung yang berjauhan satu dengan yang lainnya.

Salah satu tempat misi para misionaris awam itu adalah sebuah wilayah bernama Paitan. Adalah seorang pegawai kehutanan di kota Sandakan bernama Stephen Ubing, yang pertama-tama masuk wilayah Paitan, tahun 1980-an. Dengan perahu motor dari kantornya dia menjangkau Paitan melalui laut, dia menerobos sungai-sungai untuk mengunjungi kampung-kampung. Dia menemukan orang-orang yang bersedia menerima ajaran Tuhan. Dia mengajari dan menemani mereka berdoa. Gerakan ini gayung bersambut. Semakin banyak orang membantu. Seorang katekis, Alpheus Loinsong, bersedia tinggal di sana. Dia mengarungi sungai dengan perahu, atau berenang, berjalan dari kampung ke kampung, meneguhkan iman saudara-saudarinya.
Katekis lainnya ikut membantu: Peter Saimin dan Alikir. Alikir meninggal dunia. Peter Saimin meneruskan perjuangan para misionaris awam sampai sekarang. Mereka mengupayakan agar para imam dapat mengunjungi dan melayani. Ini dilakukan tanpa kenal Lelah.

Sejak beberapa tahun silam, seorang imam senior, Rm. Thom Makajil, menetap di sebuah rumah pastoran sederhana, berdindingkan tripleks dengan lantai semen kasar beralaskan plastik/ferlak. Wilayah Paitan dikelilingi perkebunan kelapa sawit. Kelapa sawit rakus air dan mengisap air tanah. Karena itu mereka kesulitan mendapatkan air bersih. Untuk masak dan mandi mereka mengandalkan air hujan. Kalau terjadi kemarau panjang, sumber air satu-satunya adalah sungai yang kuning pekat karena keruh. Listrik menggunakan panel surya. Di situlah Fr.Thom, demikian imam itu akrab disapa, tinggal, dan melayani.

Sebuah Kapela sederhana didirikan, kira-kira 30 meter dari jalan utama. Di pinggir jalan itu dipancangkan baliho besar dalam tiga Bahasa – Malaysia (Melayu), Mandarin dan Inggris – GEREJA KATOLIK ST. FRANSISKUS. Di sisi kiri Kapela itu ada sebuah gua Maria. Saat ini sebuah Gereja permanen sedang didirikan di lokasi Kapela itu.

Semenjak Fr. Thom bertapa di situ, komunitas-komunitas Katolik semakin solid di kampung-kampung. Banyak simpatisan Katolik minta dipermandikan. Ada 23 komunitas/kampung Katolik, dan 14 atau 15 di antaranya memiliki kapela, atau chapel, sebagian dengan baliho yang dipancangkan di pinggir jalan. Tidak semua komunitas bisa dikunjungi. Kalau ada kunjungan, dan ada Perayaan Ekaristi, betapa menggembirakan dan membahagiakan.

Gereja Penuh Tantangan
Gereja Katolik di wilayah misi baru Paitan penuh tantangan. Wilayah ini bisa dikatakan daerah perebutan agama-agama. Karena itu dalam satu kampung bisa ada beberapa agama, atau denominasi. Dan karena himpitan ekonomi, orang sering dikibuli dengan iming-iming uang, lalu berganti agama. Apalagi, banyak umat tidak berpendidikan tinggi. Mestinya komunitas-komunitas Katolik yang baru di kampung-kampung ini diteguhkan, diperkuat melalui kunjungan-kunjungan.

Namun jarak antar kampung amat berjauhan. Sementara itu transportasi susah. Tidak ada bemo atau bis antar wilayah. Jadi orang harus punya kendaraan sendiri, dengan bahan bakar yang harganya sudah berbeda dengan harga di kota. Kalau tidak, ya, harus menyewa kendaraan orang lain, yang tentu sangat mahal.
Karena itu kunjungan-kunjungan tidak bisa sering dilakukan. Apalagi kalau imamnya hanya seorang, padahal mereka sangat membutuhkan kehadiran seorang imam untuk meneguhkan mereka. Ibadat Hari Minggu biasanya dilayani seorang Katekis. “Father, terima kasih, baru kali ini ada misa Krismas, di kampung kami”, kata seorang kepala suku dari satu kampung, saat makan bersama seluruh warga Katolik di rumahnya.
Ada kampung yang belum bisa dikunjungi karena letaknya jauh dan sulit dijangkau. “Kami harus lebih dahulu ke sana, Father, untuk memastikan jumlah umat Katolik”, kata Peter Saimin suatu kesempatan. Dia berkisah tentang perjalanannya suatu waktu, bersama Fr. Thom, ke suatu kampung di pedalaman dengan menggunakan boat (perahu) melalui sungai. “Kita sampai jam 9 malam setelah melewati jeram”, katanya.
Suatu waktu, ketika hendak berkunjung ke suatu kampung, kami dihadang banjir. Air sungai meluap sampai menutup jalan. Kami coba melewati jalan lain, tapi licin sekali, karena tanah liat. Kami tak punya jalan lain. Akhirnya kami berbalik ke pastoran, meninggalkan kekecewaan dalam diri umat.
Di beberapa tempat, yang sambut saat misa hanya sedikit, karena sebagian umat yang hadir adalah simpatisan Katolik, belum dipermandikan. Bisa dibayangkan kesulitan pelayanan Sakramen-Sakramen lainnya.
Pelayanan Sakramen Perkawinan, misalnya, punya kesulitan tersendiri. Sebagian umat sudah menyandang nama yang dikonotasikan dengan agama tertentu. Menikah secara gerejawi dianggap berpindah agama, dan itu berarti harus berurusan di Pengadilan di kota, yang letaknya sangat jauh, dengan prosedur yang rumit. Kebebasan beragama tidak sebesar seperti yang dialami di Indonesia.

Gereja Para Perantau
Wilayah misi Paitan dikelilingi estate (perkebunan) kelapa sawit, yang dikuasai perusahaan-perusahaan Malaysia dari wilayah semenanjung (Kuala Lumpur). Setiap estate memiliki 8 sampai 20-an ribu hektar kelapa sawit, dan memiliki ratusan sampai ribuan buruh. Sebagian besar adalah migran dari Indonesia bagian timur, khususnya NTT, atau dari Bugis, Makassar.

Jumat, 23 Desember 2016, pertama kali saya mengunjungi kapela yang sebagian besar umatnya adalah orang-orang NTT. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 100 km, akhirnya saya bersama katekis Peter Saimin tiba di pusat perkantoran dan pemukiman estate Meridian, kurang lebih jam 7.30 malam, saat hujan rintik-rintik. Di tengah jalan bergabung dua ibu katekis, dan beberapa belia (anak muda).
Sebagian umat sudah berkumpul di Chapel St. Joseph, demikian kapela itu dinamakan. Kapela itu baru selesai dibangun, berukuran kurang lebih 7 x 10 m, dengan dana swasta, yang dikumpulkan para migran. Umat beruntung sekali, diberi keleluasaan oleh perusahaan, untuk mendirikan kapela di tempat itu.Beberapa petinggi perusahaan tersebut seperti Fred Juhim yang membidangi Human Resources, Livingson Lirinok (Assistant Manager), dan Jessico Mutun (Mill Engineer) adalah orang-orang Katolik yang aktif menggalakkan pembangunan kapela tersebut.

Perayaan Ekaristi dilangsungkan meriah, dengan koor oleh belia-belia dari stasi terdekat. Perayaan terasa seperti hari Natal, padahal masih dalam masa adven. Maklum, ini adalah hari yang ditunggu-tunggu, hari pemberkatan kapela baru oleh imam dari Indonesia, dari NTT. Perasaan haru, gembira, bahagia bercampur-aduk. Adanya sebuah kapela, biar kecil dan sederhana, selain merupakan simbol identitas dan pengakuan akan keberadaan umat Katolik, juga merupakan tanda bahwa Tuhan hadir, memberkati dan melindungi.
Usai perayaan ramai-ramai berebutan foto. Kunjungan imam dari Indonesia terasa seperti pelepas rindu bagi sebagian besar umat, yang adalah orang NTT. Tak henti-hentinya umat diaspora ini mengelilingi imamnya. Lama mereka merasa seperti domba kehilangan gembala, karena ada yang telah merantau belasan bahkan puluhan tahun, dan tidak pernah merasakan suasana kerohanian seperti ini. Mereka mendengar ada kunjungan para imam Indonesia beberapa tahun belakangan ini ke Keuskupan Sandakan. Baru pada tahun ini seorang imam Indonesia mendatangi mereka di tempat kerja mereka.

Setelah penandatanganan prasasti, dilanjutkan dengan acara ramah tamah sederhana, di sebuah tenda dari terpal dan panggung yang sudah disiapkan. Berbagai acara ditampilkan untuk mengungkapkan kebahagiaan. Dan ketika akhirnya dinyanyikan lagu Bo lele bo, umat diaspora, yang sebagian besar berasal dari Kupang, Timor itu, meneteskan air mata. Mereka tidak ingin terlalu cepat berpisah dari imamnya. Mereka ingin sekali mendapatkan lagi jadwal kunjungan imam selama Natal dan Tahun Baru, tetapi tidak dapat dilayani, karena telah dijadwalkan untuk kunjungan ke tempat-tempat lain.

Keesokan harinya, 24 Desember 2016, kunjungan ke estate IJM, untuk perayaan Natal. IJM adalah sebuah estate besar, yang terdiri dari beberapa blok, dan memiliki ribuan buruh. Sebagian buruhnya adalah orang-orang Indonesia: Bugis dan om-om (sebutan untuk migran dari Indonesia Timur). Jumlah terbesar migran NTT berasal dari Manggarai.

Kami tiba jam 2.30 siang, dijemput oleh Paulus Nanga dari Mataloko, ke rumahnya. Dia telah berkeluarga, dan diberi sebuah rumah permanen yang cukup bagus dari perusahaan. Sebentar kemudian bergabung beberapa buruh dari Manggarai, Nagekeo dan India.
Perayaan Ekaristi dimulai jam 4.30 di aula sebuah Sekolah Dasar (Humana School) yang besar, yang bisa menampung 400-500 orang. Perayaan benar-benar meriah, dalam nuansa Flores yang kental, dengan koor dari kelompok etnis Manggarai.

Usai misa, seperti di tempat-tempat lain, umat berebutan foto bersama imamnya, dilanjutkan acara makan bersama. Terasa sekali betapa umat terhibur dan diteguhkan.
Ini contoh dua estate yang dikunjungi. Wilayah Paitan dikelilingi banyak estate, dan di semua estate ribuan buruh migran dari NTT mengadu nasib. Tidak semua estate mempunyai kapela. Tidak semua mempunyai akses untuk dikunjungi.

Tidak Menyambut Komuni
Selama pelayanan hampir dua minggu di Paitan, ada sesuatu yang terasa mengganjal, setiap kali merayakan Ekaristi. Jumlah yang menyambut Komuni amat kecil jika dibandingkan dengan keseluruhan umat yang hadir, terutama di kalangan umat perantau. Ternyata banyak terganjal masalah perkawinan. Banyak pasangan hidup bersama tanpa pemberkatan perkawinan dan karena itu mereka merasa tidak layak untuk menerima Komuni Kudus.

Apakah mereka acuh tak acuh dengan urusan perkawinan mereka? Rasanya tidak! Masalahnya rumit. Dari sekian banyak buruh migran yang bekerja di berbagai estate, hanya sepertiga berdokumen lengkap. Banyak buruh migran gelap. Mereka tetap diterima bekerja di estate, dan berada di bawah tanggungjawab estate, sejauh ruang gerak mereka hanya berada di dalam wilayah estate. Di luar wilayah estate bersangkutan, perusahaan tidak bertanggungjawab. Jadi ruang gerak mereka amat terbatas. Berurusan dengan paroki untuk menyelesaikan masalah perkawinan mereka berarti harus keluar dari wilayah estate, yang amat beresiko, karena setiap saat dapat terjaring pihak keamanan. Lagi pula tidak ada transportasi umum yang bisa membuat mereka leluasa bergerak.

Sementara itu Gereja tidak mungkin memberkati pasangan-pasangan tersebut tanpa kejelasan. Ada banyak kasus di mana pasangan yang menikah sudah berkeluarga di tempat asal. Karena itu status liber sangat diperlukan. Dibutuhkan Surat Permandian, Surat Krisma, kursus perkawinan, dan lain-lain, yang memaksa mereka meninggalkan wilayah estate masing-masing. Sementara itu belum tentu semua estate memberi izinan. Untuk beribadat atau misa pada hari Minggu saja tidak semua dapat keleluasaan, karena ada estate yang menjadikan hari Minggu hari kerja.

Pendidikan Anak-Anak
Hidup bersama tanpa berkat nikah adalah salah satu masalah dari sekian banyak masalah yang dihadapi. Masalah lain yang menjadi keprihatinan kaum migran adalah pendidikan anak-anak mereka. Akses pendidikan leluasa diberikan kalau mereka mempunyai Identity Card atau IC (KTP). Memiliki IC berarti diakui sebagai Warga Negara Malaysia. Hanya yang berkewarganegaraan Malaysia sajalah yang mendapatkan hak penuh untuk belajar di sekolah-sekolah Kerajaan (Pemerintah). Namun mendapatkan IC itu sendiri tidak mudah, bahkan nyaris mustahil, kecuali kalau berpindah agama. Sebagian migran/perantau terpaksa melepaskan keyakinan imannya. Namun bagian terbesar bertahan. Resikonya adalah pendidikan anak-anak yang terlantar. Banyak yang buta huruf, tidak berpendidikan. Para migran kita, jangankan punya IC, paspor pun tidak punya. Jadi untuk bertahan hidup saja sudah penuh tantangan, apalagi untuk mengupayakan pendidikan anak-anak!
Memang di estate-estate didirikan sekolah untuk anak-anak migran. Salah satunya Humana School. Sasaran Humana School adalah baca, tulis, hitung. Jadi kurang lebih setingkat SD. Tapi tidak di semua tempat ada sekolah. Kalau pun ada, lokasinya jauh, sementara para migran sudah sejak pagi sekali berangkat ke tempat kerja. Memang ada sekolah Indonesia, yang diresmikan Presiden Jokowi. Tapi itu jauh di kota Kinabalu.

Banyak yang menyerah, tidak berdaya, membiarkan saja anak-anak tidak bersekolah. Ada yang membawa anak-anak pulang ke Indonesia, dititipkan di keluarga di Indonesia, agar bisa bersekolah walaupun terpisah jauh. Namun ada juga pejuang-pejuang pendidikan yang tidak kenal menyerah. Salah satunya adalah Klemens Duli Kewuren, asal Solor Barat, Flores Timur. Dia tidak menyelesaikan pendidikan SMP dan telah merantau belasan tahun di Malaysia. Dia merasakan, tanpa pendidikan, anak-anak dibelenggu kebodohan dan kehilangan masa depan. Mereka mudah sekali terjerat penyakit-penyakit sosial, menjadi korban atau pelakunya. Tanggal 31 Mei 2012, dia memulai usaha pendidikan, mengajari anak-anak dari rumah ke rumah. Murid-muridnya mencapai 15 orang. Dia bergerilya di malam hari, untuk mengajar anak-anak. Lama ke lamaan usaha ini terasa berat. Maka dia memanfaatkan kesempatan doa di Kelompok Umat Basis untuk mengumpulkan dan mengajar anak-anak.

Usahanya ini mendapat dukungan gereja lokal. Para suster Gembala Baik ikut membantu. Mereka mendirikan apa yang disebut CLP – Community Learning Programme. Namun beberapa kali mereka diusir ketika mulai memiliki rumah belajar yang tetap. Karena tantangan-tantangan tersebut, program ini pernah berhenti beroperasi. Tapi Klemens tidak putus asa. Beberapa tokoh gereja, seperti Ketua Dewan Pastoral Gereja St. Mark, Bpk. Demy Koyopo, turun tangan membantu. Gereja St. Mark adalah stasi dari paroki Katedral Sandakan yang dikhususkan bagi kaum migran.

Bersama tokoh-tokoh itu mereka memperjuangkan program ini ke pihak Konsulat Indonesia di Kinabalu. Konsulat merestui. Di atas sebidang tanah yang diberikan oleh umat setempat, sejak bulan Agustus 2016 mereka mendirikan sekolah dasar dengan kurikulum Indonesia. Kepala Sekolahnya adalah Klemens sendiri dan guru-gurunya adalah kaum migran yang pernah mengenyam pendidikan di SMP atau SMA. Sekolah sederhana ini dinamakan CLC Bt.16 Gum-Gum ( Community Learning Center Batu 16, Gum-Gum. Batu adalah ukuran jarak yang umum di Malaysia, kira-kira 600 m per batu).

Ketika berkunjung ke sekolah itu, anak-anak sedang asyik belajar, dipandu oleh para gurunya. Ada yang masih kecil, ada yang sudah berusia remaja. Mereka berjumlah 70-an orang. Sebagian besar anak-anak Indonesia asal NTT. Beberapa siswa/i dari Filipina. Orangtuanya tidak peduli sekolah ini menggunakan kurikulum Indonesia, asal anak-anak bisa bersekolah. Kelas-kelas dipisahkan dengan sekat tripleks setengah terbuka. Kelas tertinggi adalah kelas IV. Mereka naik kelas tidak mesti pada akhir tahun pelajaran. Setelah dua atau tiga bulan mereka bisa naik kelas, asal telah menunjukkan perkembangan yang baik. Maklum, usia mereka di kelas tertinggi memang sudah remaja, 16 atau 17 tahun. Buku-buku pelajaran mereka? “Untuk sementara, kami sering berkonsultasi pada om google, Father!”

Yang kini dicemaskan Klemens adalah kalau Konsulat Indonesia menuntut ijazah resmi para gurunya. “Father, bagaimana kami bisa mendapatkan Ujian Persamaan agar bisa mempunyai ijazah?” Pertanyaan ini hanya bisa kubawa pulang untuk diungkapkan lagi dalam tulisan ini. Rasanya Pemerintah-Pemerintah daerah kita mempunyai kewajiban menjawab jeritan-jeritan ini!

Manusia Tanpa Tempat Tinggal
Malam terakhir di Sandakan adalah malam perpisahan dengan para migran. Seorang ibu dari Flores Timur memandu acara. Dari mulutnya mengalir Bahasa Indonesia dengan aksen Melayu yang kental. Acara bergulir satu per satu dengan lancar!

Di akhir acara, saya terkejut mendapatkan informasi tentang ibu ini. Dia sekarang single parent dengan 4 anak. Suaminya sudah kembali ke Flores Timur karena telah melebihi usia 55 tahun. Malaysia hanya mengizinkan perpanjangan paspor sampai usia 55 tahun. Setelahnya tidak diperkenankan tinggal di sana. Keluarga ini terbelah antara Indonesia dan Malaysia.

Ya Tuhan! Bekerja membanting tulang, mengais rezeki. Ringgit memang punya magnit besar. Dan barangkali, banyak keluarga tertolong karena kiriman Ringgit. Tapi setelah berusia 55 tahun, anda tidak punya tempat tinggal lagi di Malaysia. Anda harus kembali ke Indonesia, negeri yang ditinggalkan saat masih muda karena merasa tidak punya masa depan. Atau, kalau anda mau menetap di Malaysia, anda menetap tanpa kepastian, selalu dengan kewaspadaan atau kecemasan, bahwa suatu saat anda akan tertangkap polisi!
Kegembiraan migran perantau adalah kegembiraan kita juga. Harapan mereka adalah harapan kita. Luka mereka, adalah luka kita juga. Dan mudah-mudahan, jeritan mereka, menjadi jeritan kita bersama!

Oleh:
Rm. Nani Songkares, Pr
Staf Pendidik di Seminari Menengah Mataloko

Tags: No tags

Comments are closed.