HIDUP SETELAH MATI

Berbicara tentang HIDUP SETELAH MATI, tentu merupakan sesuatu yang sangat abstrak bagi kita sekalian. Alasannya sangat sederhana yakni semua kita belum pernah mati. Atau belum ada seorang pun kecuali Yesus, yang bangun dari kuburnya dan memproklamirkan kepada kita sekalian bahwa ada kehidupan setelah kematian. Kalau seandainya ada orang-orang dari antara kita yang pernah mati lalu bangun dari kuburnya dan memproklamirkan kepada kita bahwa ada hidup yang penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan setelah kematian, saya yakni bahwa banyak dari antara kita akan memilih mati ketimbang hidup di atas dunia ini dengan aneka pesoalan dan penderitan yang harus di alami. Tapi sayang, hal seperti ini belum pernah kita alami dalam kehidupan nyata kita. Kita hanya mendengar cerita-cerita, entah berupa dongeng, cerita para kudus, maupun kisah-kisah  dari kitab suci yang menggambarkan kepada kita tentang kehidupan setelah kematian.

 Hal ini yang membuat  manusia-manusia jaman kini, mulai ragu apakah benar ada hidup setelah kematian ? Apa lagi manusia-manusia jaman kini selalu menuntut bukti untuk bisa yakin dan percaya. Yang bisa dipercaya adalah sesuatu yang dialami,  dirasakan, disaksikan dengan mata dan dapat diterima dengan akal. Kalau semua itu tidak terpenuhi maka mutahil orang bisa yakin dan percaya. Keyakinan dan kepercayaan manusia jaman kini sangat tergantung pada akal. Sesuatu yang bisa dijelaskan dengan akal, dimengerti dan dipahami itu yang diyakini sebagai sebuah kebenaran, sementara yang sulit dijelaskan dan diterima dengan akal sehat itu dianggap sebagai sesuatu yang salah dan tidak perlu dipercaya atau diyakini. Situasi semacam ini yang sering membuat kita manusia mulai meragukan segala sesuatu, termasuk mulai meragukan adanya Tuhan.

Namun bagi kita sebagai pengikut-pengikut Kritus, kita yakin dan percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian. Kematian bukanlah akhir dari segala-galanya. Kematian hanyalah penggalan dari kehidupan. Kehidupan yang sementara di atas dunia ini dipenggal sesaat untuk kemudian mengalami kehidupan baru yang kekal abadi sifatnya. Gereja Katholik memiliki keyakinan yang teguh bahwa ada hidup setelah kematian. Sebuah kehidupan yang tidak pernah akan binasa oleh apapun.

Bagi kita sekalian, berbicara tentang kehidupan setelah kematian tentu sulit bahkan tidak mungkin dijelaskan dengan akal sehat. Karena itu banyak orang mulai tidak percaya akan hal itu. Namun satu hal yang perlu kita sadari bahwa segala sesuatu yang tidak dapat diterima dan dijelaskan dengan akal sehat tidak berarti bahwa hal itu tidak perlu dipercaya atau diyakini. Perkara iman adalah perkara hati dan kalau kita berbicara tentang iman, kita bebicara tentang hati bukan tentang akal.

Tidak semua hal yang berhubungan dengan iman atau keyakinan mesti tuntas dijelaskan dengan akal atau pikiran. Akal kita manusia terlalu sederhana untuk menampung semua misteri yang tersembunyi dalam iman kita. Dan ini mau menunjukkan kepada kita sekalian bahwa Allah yang kita imani adalah Allah yang maha akbar, Allah yang Maha Kuasa yang tidak mungkin terjangkau oleh pikiran kita manusia yang kecil dan sederhana ini. Allah itu imanent dan trasendent. Ia ada dan hadir namun melampaui akal kita manusia. Kalau segala sesuatu yang berhubungan dengan Allah dapat dijelaskan dengan akal sehat maka Allah yang kita imani bukanlah Allah yang Maha Kuasa dan Maha Akbar. Allah buatan manusia.

Begitupun kalau kita berbicara tentang hidup setelah kematian. Hal ini tentu sangat abstrak bagi kita. Tetapi sesuatu yang abtrak belum tentu tidak benar. Justru hal yang abtrak  seringkali menampilkan tentang sesuatu yang sesungguhnya. Ia menampilkan sebuah kebenaran sejati. Dalam iman kita harus yakin bahwa memang ada kehidupan setelah kematian. Yesus sendiri telah mengatakan kepada kita sekalian “Jangan cemas dan gelisa hatimu, di rumah BapaKu ada banyak tempat. Aku mendahuluan kalian untuk menyediakan tempat bagimu”. Inilah iman yang harus kita akui bahwa ada kehidupan setelah kematian yakni kehidupan bahagia bersama Bapa di dalam rumahNya. Selain itu Yesus sendiri adalah orang pertama yang bangkit dari antara orang mati. Ketika akan meninggalkan para muridNya, Ia berpesan, “Aku mendahului kamu ke rumah BapaKu”.

Melalui kata-kata Yesus di atas, Ia sebenarnya mau menunjukkan kepada kita sekalian para pengikutNya bahwa ada kehidupan setelah kematian yakni kehidupan bahagia bersama Bapa di surga dan kematian bukanlah akhir dari segala-galanya. Kematian hanyalah saat peralihan dari kehidupan yang fana di atas dunia ini menuju kehidupan kekal di surga. Yesus sendiri telah bangkit dari antara orang mati untuk mengalami kehidupan kekal bersama Bapa di surga. Dan setiap orang yang percaya kepadaNya pasti akan mengalami kebangkitan seperti Yesus sendiri, untuk mengalami kehidupan baru.

Diskusi tentang kehidupan setelah kematian juga terjadi di kalangan orang-orang Yahudi. Kelompok orang Yahudi yang tidak percaya akan kebangkitan orang mati atau hidup baru setelah kematian adalah orang Saduki. Kelompok ini cukup berpengaruh terutama di kota Yerusalem. Mereka datang kepada Yesus untuk mencobai Dia. Alasan yang mereka angkat ialah soal perkawinan orang-orang Lewi. Diceritakan ada tujuh bersaudara. Yang pertama kawin lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Terpaksa yang kedua harus menikahi perempuan itu, karena menurut hukum, saudaranya harus memberi keturunan kepada saudaranya yang telah meninggal, agar warisan tidak berpindah tangan dan namanya tidak hilang. Akan tetapi yang kedua juga mengalami nasib yang sama, meninggalkan perempuan itu tanpa member keturunan. Begitupun yang ketiga hingga ketujuh, mengalami nasib yang sama. Yang menjadi pertanyaan orang Yahudi kepada Yesus,”Siapa yang akan menjadi suami perempuan itu pada hari kebangkitan, karena ketujuhnya sudah beristrikan dia ?

Pertanyaan orang Saduki ini memang sungguh menyudutkan orang yang percaya akan kebangkitan orang mati. Namun Yesus secara tegas menjawab bahwa perkawinan itu hanya untuk hidup di dunia ini dan bukan untuk kehidupan yang akan datang. Hal ini karena perkawinan berhubungan erat dengan melanjutkan keturunan agar bangsa manusia tidak mengalami kepunahan. Sementara untuk hidup yang akan datang orang tidak akan lagi kawin-mengawin karena dalam hidup yang akan datang manusia tidak lagi mengalami kematian seperti kehidupan di atas dunia ini. Karena itu tidak perlu dipertanyakan lagi siapakah yang akan menjadi suami perempuan itu. Pertanyaan ini hanya menunjukkan kebodohan orang Saduki. Dalam hidup yang baru semua telah menjadi anak-anak Allah. Mereka sama seperti malaikat-malaikat atau pelayan-pelayan Allah, mereka tidak lagi kawin dan dikawinkan.

Jawaban Yesus di atas juga sekaligus mengedor kesadaran kita sekalian para pengikut Kristus jaman kini, bahwa ada kehidupan setelah kematian. Sebuah kehidupan yang sangat berbeda dengan kehidupan yang tengah kita jalankan di tengah dunia ini. Dan kehidupan setelah kematian bukanlah kelanjutan dari kehidupan yang sedang kita jalani di atas dunia ini. Ketika kita mati, kita akan mengalami kehidupan yang bahagia bersama Bapa di surga. Sebuah kehidupan kekal yang terhindar dari berbagai kesulitan, penderitaan, duka dan derita seperti yang kita hadapi di atas dunia ini.

Kebahagiaan dalam kehidupan setelah kematian, juga akan sangat ditentukan oleh hidup kita saat ini. Kalau kita hidup di tengah dunia ini membawa kegembiraan dan sukacita bagi sesama kita, maka yakinlah bahwa kebahagian kekal akan menjadi milik kita kelak setelah kita meninggalkan dunia ini. Namun kalau selama hidup, kita hanya menjadi batu sandungan bagi orang lain, maka bukan kebahagian yang akan kita peroleh dalam kehidupan kekal, melainkan penderitaan. Karena itu, selama kita masih diberi waktu oleh Tuhan untuk menghirup udara segar di atas dunia ini, hendaknya kita senantiasa mengumpulkan kebajikan-kebajikan, sebab ketika kita meninggal kelak, kita tidak pernah akan di adili berdasarkan apa yang kita miliki di atas dunia ini. Tuhan tidak pernah akan bertanya, berapa banyak harta yang telah kita kumpulkan, atau apa pangkat dan kedudukan kita selama di dunia ini ? Kita hanya akan diadili berdasarkan perbuatan-perbuatan kita selama kita hidup di atas dunia ini. Dengan berbuat baik terhadap sesama kita sebenarnya telah mengumpulkan tiket untuk memperoleh kebahagiaan kekal.

Ketidakpercayaan kita akan kehidupan setelah kematian hanya akan mengantar kita kepada kesesatan. Sebab ketika kita tidak percaya akan kehidupan setelah kematian, maka kita akan melihat kematian sebagai sesuatu yang sia-sia. Kematian sebagai akhir dari segala-galanya. Sampai di sini sebagai orang beriman kita sebenarnya telah kehilangan orientasi hidup kita yang sesungguhnya. Orientasi hidup kita yang sesungguhnya harus terarah pada kehidupan kekal, karena segala sesuatu yang ada di atas dunia ini tidaklah abadi, semuanya sementara. Harta kekayaan, pangkat dan kekudukan, jabatan, semuanya sementara dan akan menjadi sia-sia setelah kita meninggalkan dunia ini. Oleh karena itu, arahkan perhatian kita pada kehidupan setelah kematian. Apa yang tidak pernah kita lihat dengan mata, tidak pernah kita dengar dengan telinga, serta tidak pernah terlintas dalam benak pikiran kita, itulah yang akan disediakan oleh Tuhan bagi semua orang yang dianggap layak olehNya.


Oleh : Reginald Piperno, Pr
Penulis, imam projo Keuskupan Agung Ende

Tags: No tags

Add a Comment

You must be logged in to post a comment