KEANGKUHAN MENUJU KEHANCURAN

Kesombongan atau keangkuhan telah menjadi penyakit social yang melanda sebagian besar manusia abad ini. Penyakit social ini lahir karena manusia-manusia abad ini mulai kehilangan daya reflektif. Kehilangan waktu bagi dirinya sendiri. Manusia-manusia jaman kini lebih sibuk mengejar karier, prestise, nama besar, sehingga mereka meninggalkan dirinya sendiri. Dampak lanjut dari semua ini, manusia lalu tidak mengenal siapa dirinya yang sesungguhnya. Ia lupa akan dirinya sendiri. Ia lalu merasa diri paling hebat, paling benar, paling kudus dari semua orang lain. Kehilangan akan pengenalan diri inilah yang mengantar manusia kepada keangkuhan atau kesombongan. Dan ketika manusia terjebak dalam sika p ini maka manusia mulai meninggikan dirinya dan merendahkan sesamanya.

Sikap semacam ini, seringkali dimiliki oleh orang-orang farisi dan para ahli Taurat. Mereka sering menganggap dirinya benar dan merendahkan orang lain. Mereka merasa hubungannya dengan Tuhan beres dan tidak bercacat. Karena itu mereka menganggap orang lain sebagai orang berdosa yang tidak pantas dihormati, disapa atau didekati. Berhadapan dengan situasi ini Yesus memberikan jawaban dengan memberikan perbandingan tentang dua orang yang pergi berdoa ke bait Allah. Seorang adalah farisi dan seorang lagi adalah pemungut cukai. Orang farisi dianggap sebagai orang saleh dalam masyarakat Yahudi karena mereka taat beribadah dan beragama. Sementara pemungut cukai dikenal sebagai orang berdosa karena mereka seringkali menagih pajak jauh lebih besar dari pada apa yang seharusnya ditagih. Hidup para pemungut cukai seringkali disingkirkan di tengah masyarakat. Mereka dianggap pengkhianat bangsa karena mereka bekerja untuk penjajah Roma.
Orang Farisi berdoa dalam hatinya,”Ya Tuhan aku mengucap syukur kepadaMu, karena aku tidak sama seperti orang lain, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini, aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Sedangkan pemungut cukai berdoa,” Ya Allah kasihanilah aku orang berdosa ini”. Pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh bahkan tidak berani menegadah ke langit, ia memukul-mukul dirinya tanda penyesalan.

Namun yang mengherankan bahwa Yesus justru membenarkan dan memuji doa pemungut cukai itu. Yesus memuji doa pemungut cukai karena ia berdoa dari hatinya, ia mengungkapkan kerendahan hatinya di hadapan Tuhan. Ia menyadari dirinya bahwa sebagai orang berdosa ia tidak layak dihadapan Tuhan. Maka dalam doanya ia tidak berani mengangkat mukanya. Ia hanya tunduk sambil menepuk dada.

Sedangkan orang farisi dikecam oleh Yesus karena sikapnya yang sombong dan angkuh. Di hadapan Tuhan, ia menunjukkan kehebatan-kehebatannya. Ia merasa diri lebih hebat dari semua orang lain. Doanya tidak berpusat pada Tuhan, tetapi berpusat pada dirinya sendiri. Ia menghitung-hitung kebajikannya dihadapan Tuhan. Seluruh isi doanya adalah peninggihan dirinya dan merendahkan orang lain. Puncak keangkuhannya ia tunjukkan ketika ia membandingan dirinya dengan pemungut cukai.

Sebagai manusia yang hidup dijaman serba berubah seperti saat ini, kita seringkali juga memiliki sikap seperti orang –orang farisi. Kita seringkali menganggap diri paling hebat, paling benar, paling baik dari semua orang lain. Pangkat, kedudukan atau jabatan yang kita miliki seringkali dipakai untuk merendahkan orang lain. Kita sering mengaggap bahwa hanya saya yang mampu dan orang lain tidak bisa berbuat apa-apa tanpa saya. Tidak jarang pangkat dan kedudukan juga digunakan untuk menguasai orang lain. Sampai disini, kita sebenarnya mulai terjebak dalam keangkuhan atau kesombongan sosial. Atau karena kita sering berdoa, sering ke gereja kita lalu menganggap diri paling kudus dari semua orang lain. Belum tentu ! Kekudusan bukan hanya terletak pada berapa sering kita berdoa atau berapa banyak kali kita ke Gereja. Melainkan terletak pada bagaimana kita menghayati apa yang kita doakan dan bagaimana kita melaksanakan apa yang telah di amanatkan oleh Tuhan sendiri dalam kehidupan nyata setiap hari.

Adalah sesuatu yang sia-sia kalau kita hanya memiliki relasi yang baik dengan Tuhan, sementara dalam kehidupan harian kita entah di tengah Komunitas Basis, di tengah Lingkungan atau Paroki, kita menjadi batu sandungan bagi orang lain yang sedang berjuang mencari Tuhan. Atau kita memiliki relasi yang baik dengan semua orang tapi kita lupa akan Tuhan. Semuanya akan sia-sia.

Tuhan senantiasa menuntut sebuah sikap yang seimbang dari kita manusia. Dengan memiliki sikap yang seimbang, kita tentu akan menghargai semua orang sesuai dengan bakat dan kemampuan yang ia miliki. Kita tidak pernah akan terjebak dalam sikap angkuh dan sombong seperti orang-orang farisi. Karena akar dari keangkuhan atau kesombongan adalah sikap yang tidak mengenal diri sendiri.

Pengalaman-pengalaman konkrit dalam kehidupan harian kita telah menunjukkan bahwa keangkuhan atau kesombongan selalu mengantar manusia kepada kehancuran. Ketika manusia mulai merasa diri lebih hebat dari Tuhan, bencana-demi bencana datang silih berganti. Atau ketika manusia mulai mengandalkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan penemuan-penemuan baru yang menggetarkan lalu lupa bahwa segalanya berasal dari Dia Yang Maha Kuasa maka bukan kebahagian yang diperoleh tapi penderitaan dan kehancuran yang harus kita terima.

Karena itu, Yesus sering mengingatkan kita para pengikutNya untuk senantiasa bersikap rendah hati. Rendah hati di hadapan Tuhan dan rendah hati di hadapan sesama. Kerendahan hati kita hanya akan tercermin melalui sikap yang tahu menghormati dan menghargai orang lain, sikap yang menerima orang lain apa adanya, sikap yang tahu menghargai orang lain sebagai sesama yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Dengan memiliki keutama-keutamaan di atas maka, sebagai manusia kita tidak pernah akan tergoda untuk bersikap angkuh dan sombong. Namun kalau kita tidak memiliki keutamaan-keutamaan seperti di atas, maka bukan musthil kita akan menjadi manusia yang angkuh dan sombong. Kalau sudah demikian maka bukan kebahagiaan yang akan kita raih, melainkan penderitaan dan kehancuran yang akan kita alami.

Penderitaan dan kehancuran akan kita alami karena dengan bersikap sombong kita akan senantiasa dijauhi oleh sesama kita. Kita akan diasingkan dalam hidup bersama. Karena itu kerendahan hati adalah hal yang paling utama dalam kehidupan setiap kita manusia. Dengan memiliki kerendahan hati, kita akan dihormati dan dihargai. Kita akan dicintai oleh sesama kita, kita akan diterima sebagai bagian yang tak terpisahkan dari orang lain dalam kehidupan bersama.

Ebiet G. Ade pernah berujar,”Tengoklah ke dalam sebelum bicara…”. Mari kita menegok ke dalam diri, melihat dan mengenal siapa diri kita yang sesungguhnya sebelum kita berkata dan bertindak. Karena apa yang kita katakan dan kita lakukan adalah adalah cerminan hati kita yang sesungguhnya.

 

Oleh : Reginald Piperno, Pr
Penulis, imam projo Keuskupan Agung Ende