YESUS SANG RAJA SEJATI

Raja adalah sebuah jabatan terhormat yang senantiasa bergelimang harta, kuasa dan kemewahan. Ia memiliki segalanya dan dengan kuasanya ia boleh melakukan apa saja yang ia kehendaki. Karena itu tidaklah mengherankan kalau jabatan semacam ini senantiasa menjadi incaran setiap manusia.  Hal ini tentu sangat jauh berbeda dengan Yesus sebagai Raja Semesta Alam. Kerajaan Yesus sungguh jauh dari sentuhan kemewahan, jauh dari lingkaran kekuasaan, jauh pula dari jamahan harta. Ironis memang, seorang raja yang tidak punya apa-apa. Uang sepeserpun tak ia miliki, apa lagi harta, tentu jauh dari impiannya. Seluruh hidupnya adalah hasil pinjaman dan belaskasihan orang.

Ketika Ia hendak datang ke tengah dunia ini, Ia meminjam rahim seorang perawan yang bernama Maria dari dusun terpencil Nasareth. Ia pun meminjam kandang domba para gembala di Betlehem sebagai tempat kelahiranNya. Ketika Ia mulai berkarya di hadapan umum, Ia lebih banyak meminjam milik orang untuk di pergunakanNya dalam karya perutusanNya. Ia meminjam, lima ketul roti dan dua ekor ikan untuk kemudian diperbanyakkanNya di padang gurun. Ia juga meminjam keledai orang untuk ditunggangNya ketika Ia hendak memasuki kota Yerusalem. Untuk kepentingan perjamuan malam terakhir barsama para muridNya, Ia  juga harus meminjam rumah orang. Bahkan makam pun Ia pinjam. Inilah figure seorang raja yang sangat jauh berbeda dengan raja-raja duniawi.

Melihat cara hidupNya, Yesus memang tidak layak digelar raja. Karena seluruh hidupNya jauh dari ciri khas seorang raja. Ia tidak memiliki istana megah seperti raja-raja duniawi, bahkan tempat untuk meletakkan kepalaNya pun tidak Ia miliki. Ia juga tidak memiliki prajurit yang dapat membelaNya. Namun Yesus diangkat menjadi raja, bukan karena kekuasaanNya, bukan juga karena kemewahan yang Ia miliki. Ia digelar raja justru karena kerendahan hati dan kesederhanaan. Dan kerajaanNya tentu bukan dari dunia ini. Kerajaan Yesus adalah kerajaan cinta yang berasal dari BapaNya di surga.

Yesus diangkat menjadi raja semesta alam bukan melalui sebuah seremoni yang gegap gempita. Bukan juga melalui sebuah pengukuhan yang bertabur kemewahan. Melainkan Ia dinobatkan menjadi raja, tatkala sebuah mahkota duri diletakkan di atas kepalaNya dan ketika tubuh kudusNya terpaku kaku pada palang penghinaan. Dan  penobatanNya menjadi raja justru dilakukan oleh seorang penjahat yang disalibkan bersamaNya. “Tuhan ingatlah akan daku apabila Engkau datang sebagai raja”.

Kristus adalah raja yang disalibkan. Dia memang disingkirkan, tetapi menjadi raja. Sebagai raja yang tersalib, disatu pihak Ia diejek, ditertawakan dan dihujat, tetapi dipihak lain, Ia juga disembah. Itulah kerajaan Yesus. Raja tanpa mahkota, raja tanpa istana,  raja tanpa segalanya. Raja seperti ini tentu tidak banyak diminati. Apalagi bagi orang-orang yang gila kuasa, harta, pangkat dan kedudukan.

Kerajaan Yesus adalah kerajaan yang sama sekali tidak kelihatan, kerajaan yang berada di balik dunia ini. Kerajaan Yesus sudah terwujud sejak saat ini, tapi hanya dialami oleh orang-orang yang bersikap seperti penjahat yang bertobat di samping Yesus di Golgota. Dia memang di Salibkan, tetapi Dia masih menyelamatkan. Kerajaan Yesus memiliki hubungan yang erat dengan pengampunan. Dia menjadi raja bagi semua orang berdosa, dan semua orang yang mau memperoleh keselamatan.Yesus baru menjadi raja bagi kita sekalian kalau kita selalu berdoa memohon pengampunan. Dia juga baru kita alami sebagai raja kalau kita juga mampu berdoa seperti penjahat yang bertobat di samping Yesus.

Sebagai seorang raja yang tersalib, Yesus tidak pernah memperhatikan diriNya sendiri, keluarga, ataupun kelompokNya. Bahkan ketika ia sedang mengajar, ada orang yang datang kepadaNya dan memberitahukan bahwa ibu dan saudara-saudaraNya mencariNya, Yesus justru balik bertanya, “Siapakah ibuku dan siapakah saudara-saudaraKu ? Ibuku dan saudara-saudaraKu, ialah mereka yang mendengar dan melaksanakan sabda Allah”. Sampai disini nampak bahwa sebagai seorang raja yang tersalib, Yesus tidak datang untuk sanak keluargaNya, atau untuk orang-orang sekampungNya. Ia datang dan menjadi raja bagi sekalian orang yang percaya kepadaNya.

Sebagai seorang raja, Yesus juga tidak datang untuk menyelamatkan diriNya sendiri atau mencari selamat untuk diriNya. Ia datang untuk menyelamatkan semua orang yang percaya kepadaNya. Seluruh hidupNya dibaktikan untuk sesamaNya. Inilah sosok pemimpin yang sebenarnya, seorang raja sejati. Pertanyaan untuk kita renungkan, “mampukah kita sebagai pengikut-pengikut Kristus mencontohi cara hidup Yesus yang selalu mengutamakan kepentingan banyak orang ketimbang kepentingan pribadi dan golongan ? Jawabannya ada dalam hati kita masing-masing.

Mencari pemimpin dan raja sejati seperti Yesus yang rela mengorbankan hidupNya bagi orang lain di jaman kini memang sulit. Pemimpin dan raja jaman kini selalu syarat kepentingan. Banyak pemimpin jaman kini yang kurang menyadari bahwa menjadi pemimpin berarti menjadi pelayan. Pemimpin jaman kini sering menganggap diri sebagai penguasa yang berhak menentukan apa saja. Karena itu tidak heran mereka selalu bertindak sewenang-wenang. Rakyat yang dipimpinnya sering dianggap tidak tahu apa-apa. Mereka bebas melakukan apa saja sesuka hatinya

 

Oleh : Reginald Piperno, Pr